Selasa, 26 Mei 2026

PENDIDIKAN INKLUSIF : TEMA 1

0

Tema 1 : Mengenal Keragaman

Topik 1 : Mengenal Keragaman di Kelas

Keragaman murid berarti setiap murid memiliki karakteristik yang berbeda, yang meliputi keragaman :

  • Sosial budaya, setiap anak tumbuh dalam lingkungan sosial dan budaya yang berbeda, dan membentuk cara mereka berpikir, merasa, dan bertindak, dimana anak belajar melalui kebiasaan, pengalaman, dan interaksi sehari-hari dengan orang di sekitar mereka
  • Kebutuhan khusus murid, mencakup berbagai kondisi yang membuat anak memerlukan dukungan tambahan dalam belajar, Disabilitas adalah kondisi jangka panjang yang membatasi seseorang dalam menjalankan aktivitas, baik secara fisik, mental, intelektual, maupun sensorik, Difabilitas atau difabel (different ability/kemampuan yang berbeda), setiap orang memiliki kemampuan dan cara yang berbeda dalam menjalankan fungsi dan berinteraksi dengan lingkungannya, bukan suatu kekurangan, bertujuan untuk membangun penghargaan terhadap keunikan dan potensi setiap individu

Faktor sosial budaya yang memengaruhi pembelajaran murid, antara lain :

  • Lingkungan Keluarga, meliputi :
    • Status Sosial Ekonomi (SES): Kombinasi dari tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan pendapatan orang tua. 
    • Struktur Keluarga : keluarga inti, keluarga besar. Waktu dan kualitas kebersamaan, keluarga yang tidak utuh 
    • Pola Asuh Orang Tua : otoritatif, otoriter, permisif, dan abai memberi pengaruh berbeda. 
    • Keluarga Rentan : kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran, dan pelecehan fisik atau emosional
    • Orang Tua dengan Gangguan Psikiatri atau Penyakit Kronis : gangguan jiwa atau AIDS
  • Faktor Pribadi, meliputi :
    • Kesehatan Fisik dan Mental : Anak yang sehat dan bahagia, anak yang mengalami hambatan seperti depresi, kecemasan, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), atau Oppositional Defiant Disorder (ODD) 
    • Temperamen Anak : Anak yang mudah beradaptasi, anak yang impulsif atau mudah stres 
    • Isu Emosional : marah, sulit fokus, atau prestasinya menurun. Konflik keluarga, kekerasan, atau bullying 
    • Usia : Anak usia dini sangat bergantung pada orang dewasa. Saat makin besar, mereka mulai belajar mandiri dan membangun pemahaman dari pengalaman.
  • Faktor Sosial, meliputi :
    • Nilai Budaya : memiliki nilai-nilai yang membentuk cara anak memandang diri dan menghadapi tantangan.
    • Prasangka dan Diskriminasi : Sikap negatif terhadap perbedaan gender, etnis, atau kondisi fisik serta gangguan citra tubuh atau gangguan makan.

Hambatan fisik adalah kondisi yang menunjukkan adanya hambatan dalam kemampuan bergerak, berpindah tempat, atau menggunakan bagian tubuh tertentu secara optimal. Kondisi ini bisa muncul sejak lahir. Bisa juga terjadi karena penyakit, cedera, atau gangguan medis lainnya, macam-macam hambatan fisik dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :

  • Gangguan Neuromotor, yaitu kondisi yang membuat seseorang kesulitan mengendalikan gerakan tubuhnya. Hal ini biasanya disebabkan oleh gangguan pada otak atau sistem saraf, antara lain :
    • Cerebral Palsy (CP), gangguan saraf yang memengaruhi gerakan, koordinasi otot, dan postur tubuh
    • Spina bifida,  adalah kelainan bawaan pada tulang belakang dan saraf di sekitarnya
    • Gangguan kejang,  adalah kondisi ketika seseorang mengalami kejang berulang
    • Cedera Otak Traumatik (Traumatic Brain Injury atau TBI), terjadi ketika otak mengalami kerusakan akibat benturan, pukulan, atau guncangan keras di kepala
  • Penyakit Degeneratif, yaitu penyakit kronis yang menyebabkan fungsi tubuh menurun secara bertahap, seperti Muscular Dystrophy
    Penyakit ini membuat otot-otot melemah secara bertahap.
  • Gangguan Ortopedik dan Muskuloskeletal, yaitu gangguan yang terjadi pada otot, tulang, atau rangka tubuh, seperti :
    • Amputasi (Kehilangan Anggota Tubuh)
    • Kelainan Tulang Belakang
    • Clubfoot. Kelainan bawaan di mana satu atau kedua kaki bayi tampak melengkung ke dalam dan ke bawah

Hambatan sensorik adalah gangguan pada indera penerima rangsangan (sensorik) yang mengakibatkan individu mengalami kesulitan dalam menerima, mengolah, atau merespons informasi dari lingkungan, meliputi fungsi :

  • penglihatan (visual), hambatan penglihatan (disabilitas netra), berupa ketidakmampuan untuk melihat sama sekali (totally blind) atau memiliki penglihatan yang terbatas (low vision)
  • pendengaran (auditori), hambatan pendengaran (disabilitas rungu), meliputi :
    • Hard of hearing (kurang dengar) : masih memiliki sisa pendengaran dan bisa memahami bahasa lisan dengan atau tanpa alat bantu,
    • Tuli : kehilangan pendengaran secara total atau hampir total, sehingga tidak dapat memproses informasi bahasa melalui pendengaran, bahkan alat bantu dengar.

Hambatan Neurodiversitas, adalah anak yang memiliki perbedaan dalam perkembangan sistem saraf, yang mempengaruhi cara berpikir, belajar, berperilaku, dan melakukan hubungan sosial dibanding anak kebanyakan,yang sering ditemui di ruang kelas, yaitu:

  • Autism Spectrum Disorder (ASD), adalah gangguan perkembangan sistem saraf yang ditandai dengan kekurangan yang menetap dalam komunikasi dan interaksi sosial di berbagai situasi, serta pola perilaku, minat, atau aktivitas terbatas dan berulang
  • Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), adalah pola gangguan yang menetap berupa kurangnya perhatian dan/atau perilaku hiperaktif-impulsif yang mengganggu fungsi atau perkembangan individu
  • Kesulitan Belajar Spesifik (Specitic Learning Disability), dalah gangguan perkembangan saraf yang berasal dari faktor biologis dan memengaruhi fungsi kognitif seseorang, yang ditandai dengan kesulitan yang menetap dalam mempelajari keterampilan akademik dasar, seperti membaca, menulis, atau berhitung

Hambatan Intelektual (Disabilitas Intelektual), kondisi ketika seorang anak mengalami keterbatasan dalam fungsi intelektual (kemampuan berpikir dan bernalar) serta perilaku adaptif (kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri), meliputi empat pengkategorian, yaitu :

  • Ringan IQ 50-70
  • Sedang IQ 35-50
  • Berat IQ 20-35
  • Sangat Berat IQ <20

Sedangkan tingkat bantuan yang dibutuhkan, pengkategoriannya adalah sebagai berikut:

  • Dukungan sesekali (Intermittent), yaitu dukungan yang diberikan hanya pada saat diperlukan, tidak terus menerus.
  • Dukungan terbatas (Limited), yaitu dukungan yang diberikan secara teratur, namun dalam jangka waktu yang pendek atau terbatas situasi tertentu.
  • Dukungan luas (Extensive), yaitu dukungan yang berlangsung terus menerus dan rutin melibatkan berbagai aspek kehidupan anak.
  • Dukungan intensif (Pervasive), yaitu dukungan dengan intensitas tinggi, terus-menerus di semua lingkungan dan biasanya melibatkan banyak pihak

Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (Gifted Talented), anak-anak dengan potensi tinggi  dalam bidang kognitif, kreativitas, kepemimpinan, seni, atau bidang akademik tertentu. konsep tiga cincin keberbakatan yang menjadi landasan dalam mengenali anak berbakat, menyebutkan bahwa keberbakatan muncul ketika terjadi interaksi antara tiga komponen utama, yaitu

  • kemampuan di atas rata-rata,
  • komitmen terhadap tugas,
  • kreativitas,

 

Topik 2 : Mengelola Keragaman

Keragaman adalah tentang bagaimana kita menerima dan menghargai keunikan satu sama lain, keragaman bukan sekadar kondisi kelas, tetapi juga jembatan menuju pengayaan profesional dan pembelajaran yang bermakna. Guru tidak hanya mengajar, tapi memfasilitasi beragam kecerdasan, pengalaman hidup, budaya, dan cara berpikir.

Manfaat Keragaman :

  • Bagi Guru:
    • Mendorong kreativitas, variasi strategi, dan kepuasan profesional.
    • Menambah wawasan, empati, dan kepemimpinan sebagai bagian dari perubahan baik di sekolah.
  • Bagi Murid:
    • Meningkatkan empati, toleransi, keterampilan sosial, dan kepercayaan diri.
    • Menyiapkan mereka menghadapi dunia global yang beragam dan saling terhubung.
  • Bagi Orang Tua dan Masyarakat:
    • Membangun solidaritas sosial dan pemahaman lintas budaya.
    • Membentuk generasi tangguh yang terbuka dan inklusif.

Risiko Jika Keragaman Tidak Dikelola :

  • Stereotip & Prasangka:
  • Pemberian label negatif terhadap murid berbeda.
  • Mikroagresi: Ucapan atau tindakan halus yang menyakitkan secara psikologis.
  • Diskriminasi: Perlakuan tidak adil secara terang-terangan.
  • Pengabaian: Tidak mengenali atau merespons kebutuhan khusus murid.
  • Perundungan (Bullying): Kekerasan verbal, fisik, atau sosial terhadap murid minoritas atau yang dianggap berbeda.

Strategi Mengelola Keragaman

  • Strategi Umum:
    • Gunakan pembelajaran fleksibel dan gunakan teknologi.
    • Libatkan orang tua dan komunitas dalam proses pendidikan.
  • Mengatasi Stereotip dan Mikroagresi:
    • Bangun kesadaran guru dan murid melalui pelatihan.
    • Gunakan bahasa yang positif, empatik, dan memberdayakan.
  • Mencegah Diskriminasi:
    • Tegakkan aturan kelas secara adil.
    • Lakukan rotasi peran dan tanggung jawab murid agar semua mendapat kesempatan.
  • Menghindari Pengabaian:
    • Kenali latar belakang budaya, sosial, dan kebutuhan setiap murid
    • Integrasikan budaya murid ke dalam materi dan kegiatan pembelajaran.
  • Mencegah Perundungan:
    • Integrasikan nilai toleransi melalui pendidikan karakter.
    • Terapkan program peer mentoring dan layanan konseling.
    • Berikan pelatihan khusus bagi guru untuk menangani kasus perundungan.
  • Strategi Komunitas:
    • Bangun komunikasi aktif antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
    • Gunakan kearifan lokal untuk memperkuat solidaritas dan nilai kebersamaan.

Pengantar :   Tema 1 :   Tema 2 :   Tema 3 :    Tema 4 : 

Kamis, 30 April 2026

PENDIDIKAN INKLUSIF : PENGANTAR

0

 Pendidikan inklusif merupakan cara pandang tentang pendidikan yang terbuka dan menghargai hak asasi manusia, yang menyebabkan meningkatnya pengharagaan dan pengakuan terhadap keberagaman atau perbedaan, tidak lagi dipandang sebagai penyimpangan melainkan sebagai sumber pengayaan.

Tulisan ini merupakan rangkuman dari pelatihan pendidikan inklusif tingkat dasar yang diselenggarakan oleh kemendikdasmen di portal rumah pendidikan, yang meliputi 4 tema dengan jumlah 40 jam pembelajaran, yaitu :

Modul yang digunakan menerapkan prinsip Universal Design for Learning (UDL) atau  ‘Desain Universal untuk Pembelajaran’ (DUP), merupakan kerangka kerja yang memungkinkan fleksibilitas dan aksesibilitas dalam pembelajaran, yang menjadi payung dalam pengembangan lingkungan fisik dan sosial-emosional yang berkontribusi positif pada proses belajar

Adapun tujuan Pelatihan Pendidikan Inklusif Tingkat Dasar, yaitu :

  • Mampu memahami berbagai bentuk keragaman individu dan merefleksikannya pada diri sendiri, memiliki empati tinggi terhadap murid dengan karakteristik yang beragam, menganalisis potensi dan risiko keragaman, serta siap menjadi agen perubahan dalam membangun strategi yang tepat untuk mengelola keragaman;
  • Mampu memahami akar filosofis dan nilai-nilai dasar pendidikan inklusif, serta menginternalisasikannya dalam sikap dan perannya sebagai pendidik;
  • Mampu memahami lingkungan fisik dan sosial-emosional kelas yang aman, nyaman, dan mendukung keragaman murid, menguasai prinsip dan penerapan DUP, termasuk dalam rencana pembelajaran, asesmen fungsional, serta strategi pengajaran, khususnya strategi pengajaran langsung dan prompt, guna memastikan semua murid terlibat dan berkembang optimal

Modul Pelatihan Pendidikan Inklusif Tingkat Dasar didesain dengan pendekatan 5E, yaitu :

  • Engage (Menggugah Minat), akan menggugah kesadaran dan rasa ingin tahu sekaligus membangun jembatan antara teori dan pengalaman
  • Explore (Mengeksplorasi), mendorong untuk mengeksplorasi konsep dan pengetahuan baru secara mandiri maupun terbimbing
  • Enhance Understanding (Memperkaya Pemahaman). pemahaman yang sudah diperoleh akan didalami lebih lanjut melalui kegiatan bacaan tambahan, diskusi, atau latihan-latihan aplikasi sederhana
  • Elaborate (Menerapkan Konsep), memberikan ruang untuk menerapkan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam konteks nyata kelas masing-masing
  • Evaluate (Mengevaluasi), diajak untuk menilai kembali pemahaman yang telah diperoleh serta dampaknya terhadap sikap dan praktik pengajaran

Jumat, 13 Maret 2026

NGAJI YUK : PENGANTAR

0

Al quran merupakan wahyu dari Allah SWT yang berisikan tatanan kehidupan mahluknya, yang langsung diturunkan dan dipelihara oleh Allah SWT (QS Al Hajr : 9), diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW agar mudah dipahami dan dihafalkan.

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang berisi firman atau wahyu Allah ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sebagai mukjizat melalui perantara malaikat Jibril, secara bertahap atau mutawatir selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. dalam dua periode, yaitu :

  • Periode Mekkah, sebelum hijrah, surat-surat yang turun disebut surat/ayat makkiyyah berlangsung selama 12 tahun sebanyak 86 surat
  • Periode Madinah, dimulai sejak peristiwa hijrah hingga sesudah hijrah. Surat-surat yang turun disebut surat/ayat madaniyyah, berlangsung selama 10 tahun sebanyak 28 surat

Pada permulaan turunnya wahyu yang pertama adalah surat Al-Alaq di Gua Hira saat Nabi Muhammad SAW sedang menyendiri bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan sekitar tahun 610 M, dan wahyu terakhir adalah surat Al-Maidah ayat 3 yang di turunkan di Jabal Rahmah pada saat Haji Wa’da bertepatan pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 H.

Secara umum Al-Qur’an terdiri dari : 114 surat, 30 juz, 6236 ayat dan 6.666 ayat tema, serta mempunyai nama atau sebutan lainnya, antara lain :

  • Al-Kitab QS(2:2), QS (44:2)
  • Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1)
  • Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9)
  • Al-Mau’idhah (pelajaran/nasihat): QS(10:57)
  • Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37)
  • Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39)
  • Asy-Syifa’ (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82)
  • Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33)
  • At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)
  • Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77)
  • Ar-Ruh (ruh): QS(42:52)
  • Al-Bayan (penerang): QS(3:138)
  • Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6)
  • Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102)
  • An-Nur (cahaya): QS(4:174)
  • Al-Basha’ir (pedoman): QS(45:20)
  • Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52)
  • Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)

Al Quran sebagai pedoman hidup, sudah seharusnya kita mempelajari dan menghafalkan serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, agar selamat dunia akhirat, adapun keutamaan mempempelajari/menghafal Al quran, antara lain :

  • Menjadi orang pilihan Allah
  • Hati tidak akan pernah merasa hampa
  • Hatinya terbebas dari siksa
  • Dosa yang berkarat akan diampuni
  • Menjadi kebanggaan mahluk
  • Mengenakan mahkota kehormatan di akhirat
  • Kebahagiaan bagi kedua orang tua di akhirat
  • Mendapat syafaat dari Al quran
  • Mendapatkan tempat yang tinggi di surga

Mempelajari/menghafal Al quran dijamin akan dimudahkan oleh Allah SWT (QS Al Qomar : 17), yang merupakan motivasi kita dalam membaca, memahami, menghafalkan dan mengamalkan Al quran, untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mempelajari Al quran, antara lain :

  • Niat yang ikhlas, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih ridha-Nya
  • Memohon ampunan dan perlindungan Allah SWT dari godaan setan, dengan melakukan beristighfar dan berdzikir
  • Berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon dengan kepsarahan dan kerendahan hati  kepada Allah SWT
  • Tidak memperbanyak kesibukan dunia, karena dunia diciptakan untuk menguji manusia dalam amal perbuatannya
  • Meluangkan waktu dan menertibkan diri, tidak menyiakan waktu
  • Menjaga adab terhadap Al quran

Adab terhadap Alquran merupakan kewajiban dalam memuliakan Alquran sebagai kalam ilahi dan mukjizat Nabi Muhammmad SAW, yang meliputi :

  • Adab Dhahir, meliputi :
    • Disunahkan memperbanyak membaca Alquran
    • Disunnahkan bersuci sebelum membaca Alquran
    • Disunnahkan membaca Alquran ditempat yang bersih/suci, lebih utama di masjid
    • Disunnahkan menghadap kiblat dengan khuisuk dan khidmat
    • Disunnahkan bersiwak
    • Disunahkan membaca taawuz dan basmallah disetiap awal surah kecuali surah At taubah
    • Disunnahkan membaca secara tartil, tertib sesuai urutan surah
    • Disunnahkan untuk menyelesaikan bacaan sampai akhir surah
    • Disunnahkan tidak berhenti sebelum tanda wakaf
    • Disunnahkan sujud tilawah ketika membaca ayat sajdah
    • Disunnahkan membaca takbir disetiap pergantian surah mulai Adh Dhuhaa sampai A Naas
    • Membaca dengan melihat mushaf
    • Disunahkan untuk memperindah suara (mantap, tegas, lirih) dan lagu semampunya
    • Disunnahkan menangis sedih dan khusuk
  • Adab Bathin, meliputi :
    • Membaca Alquran dengan mentadaburi dan memahami makna bacaannya
    • Merenungkan kelembutan Allah SWT
    • Mengetahui betul bahwa yang dibaca adalah kalam Allah
    • Memahami ayat yang sedang dibaca
    • Menjaga diri dari ketidakpahaman
    • Merasa diri sebagai objek pembicaraan Alquran
    • Menyadari bahwa kekuatan hanya memiliki Allah
  • Adab pendengar Alquran, meliputi :
    • Duduk beradab dan khidmat
    • Mendengarkan dalam diam dan tenang
    • Dhair dan bathinya tidak tersibukan selain Allah
    • Bersujud ketika mendengar ayat sajdah
    • Menangis
  • Adab pada mushaf, meliputi :
    • Meletakan ditempat yang tertinggi
    • Tidak meletakan di lantai
    • Menerima Mushaf dengan berdiri
    • Disunnahkan memberi wewangian pada mushaf
    • Diharamkan untuk dijadikan bantal
    • Haram duduk berselonjor didepan mushaf
    • Diperbolehkan menghias mushaf dengan perak dan emas untuk wanita
    • Tidak boleh menganggap remeh mushaf
    • Makruh menggantung mushaf
    • Haram meletakan di tempat najis
    • Haram memegang mushaf dalam keadaan hadas kecil dan besar

Pada seri ngaji yuk berikutnya akan dibahas tentang asbabun nuzul, tadabur, fikih dan fadhilah dari surah Al Fatihah dan jus amma.

Disadur : At Tadzkir Metode Menghafal Al Quran, Tim Genta Hidayah, Sidoarjo, 2019

Kamis, 26 Februari 2026

DESAIN PEMBELAJARAN ABAD 21 : RUBRIK 21CLD

0

 Rubrik Pembelajaran 21CLD (21 Century Learning Desgn) dalah panduan berbasis riset dari Microsoft untuk merancang dan mengevaluasi aktivitas pembelajaran yang meningkatkan keterampilan siswa abad ke-21. Rubrik ini mencakup 6 dimensi: kolaborasi, konstruksi pengetahuan, regulasi diri, pemecahan masalah dunia nyata/inovasi, penggunaan TIK, dan komunikasi terampil. Setiap dimensi dinilai menggunakan 4-5 tingkat yang membantu guru mendesain ulang kegiatan belajar.

  • Kolaborasi (Collaboration): Menilai sejauh mana siswa berbagi tanggung jawab dan membuat keputusan substantif bersama (contoh: desain bersama). Komponen Utama Rubrik Kolaborasi 21CLD
    • Berbagi Tanggung Jawab: Siswa berbagi tanggung jawab secara setara untuk produk akhir.
    • Keputusan Substantif Bersama: Siswa mengambil keputusan terkait konten, desain, atau substansi proyek bersama-sama.
    • Saling Ketergantungan (Interdependensi): Pekerjaan satu siswa bergantung pada hasil kerja siswa lain (bukan sekadar membagi tugas lalu disatukan). 
Tingkatan Rubrik Kolaborasi 21CLD
    • Level 1 (Terendah): Siswa bekerja secara individu atau tidak berkolaborasi dalam mengambil keputusan substansial.
    • Level 2: Siswa bekerja dalam kelompok, tetapi tidak berbagi tanggung jawab secara substantif (misal: berbagi tugas tanpa interdependensi).
    • Level 3: Siswa berbagi tanggung jawab, tetapi tidak mengambil keputusan substantif bersama.
    • Level 4: Siswa berbagi tanggung jawab dan membuat keputusan substantif bersama, namun tidak bekerja secara saling bergantung.
    • Level 5 (Tertinggi): Siswa berbagi tanggung jawab, membuat keputusan substantif bersama, dan bekerja secara saling bergantung untuk menghasilkan produk akhir. 
  • Konstruksi Pengetahuan (Knowledge Construction): Mengukur apakah aktivitas menuntut siswa melampaui sekadar mengingat, memahami, atau mengaplikasikan, melainkan menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi untuk membangun pengetahuan baru. Berikut adalah detail konstruksi pengetahuan dalam rubrik 21CLD :
    • Tingkatan Konstruksi (Rubrik): Rubrik ini mengukur sejauh mana pembelajaran menuntut siswa membangun pengetahuan. Tingkat rendah hanya mengharuskan reproduksi informasi, sementara tingkat tinggi mengharuskan interpretasi, sintesis, dan evaluasi.
    • Transfer Pengetahuan: Konstruksi pengetahuan dianggap terjadi jika peserta didik menggunakan apa yang mereka pelajari untuk memecahkan masalah atau membuat produk di konteks yang berbeda (tidak hanya mengulang apa yang diajarkan).
    • Aktivitas Utama: Siswa terlibat dalam kegiatan seperti analisis data, merancang solusi, atau melakukan evaluasi kritis, bukan hanya membaca atau mendengar.
    • Peran Pendidik: Pendidik bertindak sebagai fasilitator yang merancang aktivitas berbasis praktik kolaboratif untuk membantu siswa berpikir tingkat tinggi, bukan hanya menyuapi informasi.
    • Hasil Pembelajaran: Konstruksi pengetahuan bertujuan menghasilkan pembelajaran yang mendalam, kontekstual, dan relevan dengan tantangan abad ke-21. 
  • Regulasi Diri (Self-Regulation): Mengevaluasi apakah siswa merencanakan pekerjaan, mengatur diri sendiri, dan mendapatkan umpan balik untuk revisi. Rubrik regulasi diri dalam desain pembelajaran abad ke-21 (21CLD) dirancang untuk mengevaluasi sejauh mana aktivitas belajar mendorong peserta didik mengatur diri sendiri dalam proses belajarnya. Aktivitas belajar yang baik melibatkan kemampuan peserta didik untuk merencanakan, mengevaluasi, dan merevisi pekerjaan mereka berdasarkan umpan balik. Aktivitas terbaik bahkan mendorong revisi dan peningkatan karya secara berkelanjutan.
  • Pemecahan Masalah Dunia Nyata & Inovasi (Real-World Problem Solving and Innovation): Fokus pada apakah aktivitas memecahkan masalah non-algoritmik (tidak ada jawaban langsung) dan berdampak di luar kelas.
  • Penggunaan TIK untuk Pembelajaran (ICT for Learning): Menilai apakah teknologi digunakan sebagai alat untuk mengonstruksi pengetahuan, bukan sekadar mengganti pensil.
  • Komunikasi Terampil (Skilled Communication): Mengukur apakah siswa menyajikan bukti pendukung dan menyesuaikan komunikasi dengan audiens tertentu.  Berikut adalah garis besar tingkat kompetensi rubrik Komunikasi Terampil (21CLD):
    • Tingkat 1 (Rendah): Siswa hanya menyampaikan informasi dasar, tidak memerlukan komunikasi yang didukung bukti, atau tidak terstruktur.
    • Tingkat 2: Siswa menyajikan ide, tetapi argumen belum didukung dengan bukti yang kuat atau belum disesuaikan sepenuhnya dengan audiens.
    • Tingkat 3: Siswa menyampaikan komunikasi yang terstruktur dan didukung bukti (data, fakta, argumen) untuk meyakinkan audiens.
    • Tingkat 4 (Tinggi): Siswa menggunakan komunikasi multimoda (kombinasi lisan, tertulis, visual) yang berkesinambungan, terstruktur, dan disesuaikan secara khusus untuk audiens target untuk mencapai tujuan tertentu. 
Kunci Komunikasi Terampil 21CLD:
    • Bukti Pendukung: Menyampaikan ide yang didukung data atau argumen logis.
    • Audiens & Tujuan: Menyesuaikan pesan, gaya, dan media untuk audiens spesifik.
    • Multimoda: Menggunakan kombinasi teks, audio, visual, atau digital
LAMPIRAN : RUBRIK 21 CLD