Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 September 2026

ASN BERINTEGRITAS : ANTI KORUPSI

0

Tulisan ini merupakan rangkuman dari materi E-Learning ASN Berintegritas yang diselenggarakan oleh Pemprov Jawa Barat, yang bertujuan untuk meningkatkan integritas dan kesadaran antikorupsi di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui pembelajaran digital yang sistematis dan relevan, dan diharapkan mampu menolak dan melaporkan praktik koruptif serta berperan sebagai agen perubahan dalam birokrasi

Materi pelatihan ASN Berintegritas terdiri dari 6 modul, sebagai berikut :

    • Modul 1 – Berani Memilih Jalan Lurus, Meski Banyak Godaan
    • Modul 2 – Saat Perkataan, Pikiran, dan Perbuatan Harus Selaras
    • Modul 3 – Dari Uang Kopi, Parsel Lebaran, hingga Korupsi
    • Modul 4 – Teguh dalam Integritas : Berani Bersikap Objektif saat Menghadapi Konflik Kepentingan
    • Modul 5 – Tangan yang Menolak
    • Modul 6 – Cahaya Perubahan

Nilai dasar ASN BerAKHLAK adalah pondasi etika kerja ASN karena menjadi standar sikap, perilaku, dan budaya kerja yang diharapkan dari setiap aparatur, yang meliputi :

    • Berorientasi pelayanan, yaitu komitmen memberikan pelayanan prima demi kepuasan masyarakat
    • Akuntabel, yaitu bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan
    • Kompeten, yaitu terus belajar dan mengembangkan kapabilitas
    • Harmonis, yaitu saling peduli dan menghargai perbedaan
    • Loyal, yaitu berdedikasi dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara
    • Adaptif, yaitu terus berinovasi dan antusias dalam menggerakkan serta menghadapi perubahan
    • Kolaboratif, yaitu membangun kerja sama yang sinergis

Ada 3 aspek masing-masing terdiri dari 3 nilai, sehingga berjumlah 9 dalam nilai antikorupsi yang disingkat JUMAT BERSEPEDA KK, yaitu :

    • Inti, meliputi : jujur, disiplin, tanggungjawab
    • Sikap, meliputi : adil, berani, peduli
    • Etos kerja, meliputi : kerja keras, mandiri, sederhana

Godaan integritas merupakansituasi yang mendorong untuk menyimpang dari nilai jujur, adil dan transparan, godaan yang sering muncul, antara lain : gratifikasi, penyalahgunaan wewenang, konflik kepentingan, tekanan eksternal. sedangkan dilema integritas merupakan situasi yang sulit ketika harus memilih antara dua hal yang sama-sama beresiko tetapi harus tetap selaras dengan nilai integritas, atau karena relasi kekuasaan yang memposisikan kondisi tertekan dan mendapatkan konsekuensi dengan keselamatan individu/keluarga.

Ada 30 jenis/bentuk korupsi yang dikelompokkan menjadi 7 kelompok, yaitu :

    • Kerugian keuangan negara
    • Penggelapan dalam jabatan
    • Suap menyuap
    • Benturan kepentingan dalam pengadaan
    • Perbuatan curang
    • Pemerasan
    • Gratifikasi

Faktor penyebab korupsi ada 2, yaitu :

    • Faktor internal, meliputi :
      • aspek perilaku individu : tamak, gaya hidup konsutif, moral
      • aspek sosial
    • Faktor eksternal, meliputi :
      • aspek sikap masyarakat
      • aspek ekonomi
      • aspek politis
      • aspek organisasi
Adapun jenis konflik kepentingan ada 3, yaitu :
    • Potensial, situasi dimana pegawai mempunyai kewenangan yang mempunyai potensi disalahgunakan pada masa yang akan datang
    • Aktual, situasi dimana pegawai sedang bertugas tetapi tindakanya dipengaruhi oleh kepentingan pihak lain
    • Persepsi, situasi dimana pegawai tampak mempunyai kepentingan dalam suatu keputusan meskipun tidak terlibat langsung

Prinsip mengelola konflik kepentingan dapat dilakukan melalui :

    • Mengutamakan kepentingan publik
    • Menciptakan keterbukaan penanganan pengawasan konflik kepentingan
    • Mendorong tanggung jawab pribadi dan sikap keteladanan
    • Menciptakan dan membina budaya organisasi yang tidak toleran terhadap konflik kepentingan

Setiap ASN atau penyelenggara negara wajib melaporkan setiap penerimaan gratifikasi yang berhubungan dengan jabatnnya paling lambat 30 hari kerja, melalui saluran, sebagai berikut :

    • website : https://gol.kpk.go.id/
    • email : https://gol.kpk.go.id/
    • Surat/Langsung : Ditujukan ke Direktorat Gratifikasi KPK di Jalan Kuningan Persada Kav. 4, Setiabudi, Jakarta Selatan 12950
    • Aplikasi : GOL Online

Trisula pemberantasan korupsi, meliputi :

    • Sula Penindakan, adalah strategi represif KPK dalam menyeret koruptor ke meja hijau, membacakan tuntutan, serta menghadirkan saksi-saksi dan alat bukti yang menguatkan. Strategi ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu penanganan laporan aduan masyarakat, penyelidikan, penyidikan, penuntutan, hingga eksekusi
    • Sula Pencegahan, mencakup perbaikan pada sistem sehingga meminimalisasi terjadinya tindak pidana korupsi. Pada strategi ini, KPK akan melakukan berbagai kajian untuk kemudian memberikan rekomendasi kepada kementerian atau lembaga terkait untuk melakukan langkah perbaikan
    • Sula Pendidikan, dilakukan dengan kampanye dan edukasi untuk menyamakan pemahaman dan persepsi masyarakat tentang tindak pidana korupsi, bahwa korupsi berdampak buruk dan harus diperangi bersama

 

LAMPIRAN :

 

Posted in   

Minggu, 23 Maret 2025

KELUARGA UDIN

0

Disebuah desa yang dikelilingi perkebunan kopra, kakao, karet, kopi dan teh, hiduplah keluarga sederhana yang terdiri dari Pak Ahmad sebagai ayah, Bu Gita sebagai ibu dan 3 orang anak laki-laki yaitu Paijo, Udin dan Heri, serta 1 orang anak laki-laki yang sudah meninggal sejak balita bernama Tono. Orang-orang desa tersebut sering menyebut keluarga ini dengan sebutan "Keluarga Udin", karena tingkah laku si Udin yang paling beda.

Pak Ahmad selaku kepala keluarga, pernah menjadi guru di SMP swasta di desanya, kemudian beralih profesi sebagai tukang foto dan tukang ojek. Aktifitas dalam kegiatan kemasyarakatan sangat aktif, mulai membina klub sepak bola, bola volley, brigde serta kegiatan budaya dan keagamaan. Banyak prestasi yang dihasilkan antara lain, membawa klub sepak bola dan bola volley maju sampai juara piala bupati, club brigde sampai juara piala gubernur, dan tim kesenian ludruk sering manggung di acara kabupaten dan propinsi.

Sedangkan Bu Gita selaku ibu rumah tangga juga bekerja sebagai karyawan di perkebunan sebagai tenaga kesehatan, yang pada waktu itu tugasnya meliputi seluruh wilayah perkebunan, mulai membantu kelahiran, sunatan, operasi kecil sampai meracik obat dan posyandu. Hampir semua warga diseluruh wilayah perkebunan mengenal beliau karena keiklasan dan kedermawanan dalam menolong orang yang membutuhkan tanpa mengenal waktu dan jarak, serta merupakan ibu bagi anak-anak yang berhasil ditolong proses kelahirannya.

Paijo selaku anak sulung mempunyai tugas membersihkan dan menyiapkan penerangan petromak dan lampu minyak untuk penerangan diwaktu malam. Pendidikan formalnya dimulai dari SD dan SMP di sekolah perkebunan, SMA pindah ke daerah kawedanan dan perguruan tingginya di ibukota propinsi mengambil jurusan pertanian.

Tono selaku anak kedua meninggal ketika berusia masih balita dan dimakamkam di pemakaman non muslim di desa tetangga, karena yang mempunyai fasilitas pemakaman non muslim.

Udin selaku anak ketiga mempunyai tugas mencari kayu bakar, mencuci dan memasak. Pendidikan formalnya SD di sekolah perkebunan, SMP di kota kecamatan, SMA di kota kabupaten dan perguruan tingginya di luar propinsi mengambil jurusan pendidikan.

Heri selaku anak bungsu mempunyai tugas membersihkan rumah mulai menyapu dan mengepel lantai. Pendidikan formalnya SD di sekolah perkebunan, SMP di kota kecamatan, SMA di kota kabupaten dan perguruan tingginya di ibu kota propinsi mengambil jurusan kesehatan.

Kondisi keluarga Udin termasuk dalam keluarga sederhana, dimulai dari dtinggal di perumahan perkebunan kemudian pindah ke rumah peninggalan belanda yang berada di sekitar perkebunan. Dalam mendidik anak-anaknya Pak Ahmad lebih menekankan pada kedisiplinan dan hukuman yang tegas, seperti setiap anaknya yang melakukan kesalahan dihukum di kunci di kamar, dipukul pakai sandal jepit dan ditambahin pekerjaan rumah. Sedangkan Bu Gita lebih mengayomi dan sering mangajak anak-anaknya untuk ikut keliling didaerah perkebunan pada saat menolong warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Disamping itu semua anak diajarin untuk mandiri dengan cara membantu menjemur foto, memotong foto sesuai ukuran dan mencatat pesanan foto afdrukan, adapan pembagian kerjanya Paijo bagian mengantar ayah saat ada pangilan foto keluar desa atau kesekolah-sekolah, Udin membantu afdruk dan cetak foto, Heri bagian menjemur dan memotong foto dan menyimpannya.

Dari ketiga bersaudara tersebut, kehidupan keseharian Udin yang paling nyeleneh yang membuat warga sekitar sering mengadukan ke orang tua Udin. Kenakalan Udin merupakan hal unik yang sering dilakukan oleh anak-anak, mulai dari berkelahi, mengusilin atau menjahilin orang lain dan membuat jengkel dan kesel orang lain.

Penasaran dengan kehidupan dan keisengan dari Udin, ikuti terus kisah cerita si Udin selanjutnya dalam rangkaian cerita "UDIN THE SERIES".

Cerita dalam "UDIN THE SERIES" adalah cerita fiktif, jika terdapat kesamaan tempat, nama dan kejadian/peristiwa mohon dimaafkan dan dimaklumi, terima kasih

Posted in