Tema 4 : Mengelola Asesmen Fungsional dan Strategi Pengajaran dalam Kerangka DUP
Topik 1 : Asesmen Fungsional
Asesmen fungsional merupakan proses untuk mengetahui kemampuan murid dalam menjalani kegiatan sehari-hari, seperti belajar, berinteraksi, dan merawat diri, untuk melihat apa yang bisa dilakukan murid dan dukungan apa yang diperlukan agar bisa mandiri dan aktif di sekolah, denga fokus bukan pada label atau keterbatasan murid, melainkan pada kemampuan yang dimiliki serta area yang masih perlu dibantu, agar mereka dapat mencapai tujuan belajar, berkembang sesuai potensi, dan berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan sekolah.
Tujuan Asesmen Fungsional, antara lain :
- Mengidentifikasi kekuatan (potensi, bakat, minat) dan hambatan (konsentrasi rendah, komunikasi, sosial, dsb.) yang dimiliki murid. Asesmen membantu guru dan tim pendidik lain untuk mengenali potensi murid, seperti:
- Minat khusus atau bakat tertentu (misalnya: musik, seni, olahraga, teknologi)
- Keterampilan yang dikuasai pada tahapan perkembangan (misalnya: berkomunikasi dengan menggunakan gestur, bukan bahasa verbal; rentang fokus perhatian terbatas; menggunakan kursi roda untuk mobilisasi)
- Menyesuaikan kebutuhan pembelajaran dengan keragaman murid.
Asesmen fungsional membantu guru memahami beragam kebutuhan dan menyesuaikan proses pembelajaran secara lebih personal. Dengan informasi dari asesmen tersebut, guru dapat:- Menyusun tujuan pembelajaran yang realistis dan bermakna sesuai kemampuan murid.
- Merancang kegiatan belajar yang bisa diakses oleh semua murid, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus.
- ]Memberi dukungan yang tepat: ada yang dibantu visual, modifikasi tugas, penggunaan teknologi asistif.
- Menyelaraskan dukungan yang diberikan oleh satuan pendidikan.
Hasil asesmen menjadi dasar bagi sekolah untuk 1) mengelola sumber daya dan dukungan yang tersedia serta 2) berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk memberikan dukungan yang konsisten dan terintegrasi, misalnya.- Penempatan guru
- Pendampingan tutor sebaya
- Pendampingan ahli lain terkait (psikolog, ahli rehabilitasi, terapis, dll)
- Menentukan strategi, metode, dan pendekatan yang sesuai.
Informasi dari asesmen digunakan untuk menyusun rancangan pembelajaran di kelas melalui Desain Universal untuk Pembelajaran (DUP) ataupun strategi lainnya, seperti Pembelajaran Berdiferensiasi, misalnya:- Pemilihan metode pengajaran yang mendukung partisipasi aktif semua murid
- Pemilihan variasi penyajian materi dan tugas
- Pemilihan variasi pendekatan yang melibatkan semua murid
Pendekatan Asesmen fungsional yang berkualitas, meliputi :
- Komprehensif, berarti:
- Asesmen harus mencakup aspek kognitif, sosial, emosional, dan fisik untuk menentukan layanan pendidikan dan dukungan yang paling tepat bagi para murid
- Melibatkan berbagai sumber informasi, seperti observasi kelas, wawancara dengan guru lain dan orang tua, dokumentasi hasil belajar, serta tes atau instrumen tertentu.
- Mempertimbangkan berbagai konteks lingkungan baik di sekolah maupun di rumah.
- Sistematis, berarti:
- Mengikuti langkah-langkah yang runtut, seperti: 1) identifikasi masalah, 2) pengumpulan data, 3) analisis, 4) interpretasi, dan 5) rekomendasi dukungan.
- Menggunakan alat atau teknik asesmen yang valid dan reliabel (misal: daftar cek observasi, instrumen yang distandarisasi, lembar refleksi guru).
- Mencatat dan mendokumentasikan proses dan hasil asesmen secara tertib agar bisa dijadikan dasar dalam intervensi, pelaporan, dan evaluasi berkelanjutan.
- Objektif, berarti guru mencatat apa yang benar-benar terjadi, bukan sesuatu yang berdasar asumsi
Secara umum, asesmen fungsional murid bisa dilakukan oleh :
- Profesional, merupakan proses identifikasi kebutuhan murid yang dilakukan oleh tenaga ahli di luar lingkungan sekolah, seperti psikolog, psikiater, terapis, dan ahli lain yang memiliki kualifikasi profesi, yang meliputi :
- Asesmen Perilaku Fungsional (APF) atau Functional Behaviour Assessment (FBA) adalah proses sistematis untuk memahami alasan di balik perilaku menantang yang dimiliki oleh seseorang, baik dalam hal akademik, sosial, maupun emosional. Asesmen ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dan tujuan perilaku.
- Asesmen fungsi adaptif mengevaluasi kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas sehari-hari dan memenuhi harapan sosial sebagaimana umumnya orang-orang dengan usia dan latar belakang yang sama. Contoh asesmen fungsi adaptif antara lain tes kemampuan kognitif, tes intelegensi, tes kematangan sosial, dan tes kematangan perilaku yang umumnya dilakukan oleh psikolog.
- Asesmen diagnostik adalah evaluasi formal yang dilakukan untuk menentukan apakah seorang murid memiliki kondisi tertentu. Asesmen ini biasanya dilakukan oleh tenaga medis profesional (misalnya, dokter anak atau psikiater) atau tim terkait (misalnya, psikolog, ahli patologi wicara, atau ahli terapi okupasi). Tujuan utama asesmen diagnostik adalah untuk mengidentifikasi dukungan yang tepat sesuai kebutuhan seorang murid di berbagai kondisi lingkungan, termasuk sekolah
- Guru, adalah proses sistematis yang dilakukan oleh guru untuk mengidentifikasi kekuatan, hambatan, dan kebutuhan murid dalam melakukan aktivitas belajar, interaksi sosial, dan partisipasi di sekolah. Tujuan utamanya adalah untuk memahami bagaimana keberfungsian murid dalam konteks nyata, sehingga guru bisa merancang dukungan dan strategi pembelajaran yang sesuai dan bermakna., aspeknya meliputi :
- Aspek Akademik Fungsional, contohnya :
- Kemampuan memahami instruksi guru
- Keterampilan membaca, menulis, dan berhitung pada aktivitas harian
- Kemampuan mengikuti pelajaran dan menyelesaikan tugas sesuai kemampuan
- Cara murid mengakses materi pelajaran (misalnya, melalui bantuan visual, audio, teknologi)
- Aspek Komunikasi dan Interaksi Sosial, contohnya:
- Kemampuan menyampaikan kebutuhan dan pendapat
- Cara murid memahami dan merespons bahasa lisan/tulisan
- Keterampilan berinteraksi dengan teman, guru, dan lingkungan
- Penggunaan alat bantu komunikasi jika diperlukan
- Aspek Kemandirian dan Perawatan Diri, contohnya:
- Kemampuan makan, berpakaian, menjaga kebersihan diri
- Mengelola barang-barang pribadi dan kebutuhan sekolah
- Keterampilan berpindah tempat di lingkungan sekolah secara mandiri
- Aspek Emosional dan Perilaku, contohnya:
- Kemampuan mengelola emosi dan menghadapi stres
- Pola perilaku yang mengganggu atau mendukung pembelajaran
- Kemampuan memahami dan mematuhi aturan
- Respons terhadap perubahan rutinitas atau lingkungan
- Aspek Motorik dan Mobilitas, contohnya:
- Koordinasi motorik halus dan kasar (menulis, memotong, berjalan, dsb)
- Kemampuan bergerak di lingkungan sekolah (kelas, toilet, kantin)
- Kebutuhan alat bantu atau penyesuaian fisik
- Aspek Sensorik, contohnya:
- Sensitivitas terhadap suara, cahaya, sentuhan, atau rangsangan lainnya
- Kemampuan mengatur diri saat mengalami overstimulasi atau understimulasi
- Dampaknya terhadap fokus belajar dan interaksi
- Aspek Partisipasi dalam Aktivitas Sekolah, contohnya:
- Keterlibatan dalam kegiatan kelas, upacara, olahraga, atau kegiatan ekstrakurikuler
- Hambatan yang dihadapi dalam berpartisipasi
- Strategi atau dukungan yang dibutuhkan dalam partisipasi dan aktivitas sekolah, seperti pendampingan guru atau teman sebaya
- Aspek Lingkungan dan Dukungan, contohnya:
- Faktor-faktor lingkungan yang mendukung atau menghambat fungsi murid
- Ketersediaan dukungan dari guru, teman sebaya, keluarga
- Akses terhadap sumber daya atau layanan tambahan (psikolog, terapis, konselor, dsb.)
- Aspek Akademik Fungsional, contohnya :
Observasi atau pengamatan, dimana guru mengamati secara langsung perilaku dan cara belajar murid, baik di dalam maupun di luar kelas yang dilakukan secara konsisten dan terencana, bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai perilaku atau kemampuan murid. Langkah-langkah dalam melakukan observasi, antara lain :
- Tetapkan tujuan, identifikasi area spesifik yang akan diamati
- Siapkan alat observasi, berupa lembar catatan pengamatan, daftar periksa (checklist), atau kuesioner. Observasi bisa dicatat dalam buku catatan, buku harian refleksi, atau secara lebih formal dalam daftar periksa
- Lakukan observasi, amati murid secara objektif dan catat, berfokus pada fakta, bukan penilaian opini
- Analisis dan evaluasi, analisa data dan buat penilaian kemajuan siswa
Profil Belajar Siswa (PBS) merupakan alat untuk mendokumentasikan hasil pengamatan guru, sehingga memudahkan proses identifikasi fungsional murid, dikembangkan sebagai alat skrining yang terstandarisasi dan dapat digunakan untuk menilai kebutuhan murid, didasarkan pada Child Functioning Module (CFM) atau Modul Fungsi Anak yang dikembangkan oleh Washington Group/UNICEF, silahkan download aplikasinya di playstore_ Profil Belajar Siswa
Aplikasi Profil Belajar murid (PBS) hasilnya dapat dimanfaatkan untuk :
- Merancang pembelajaran yang ramah dan akomodatif di sekolah,
- Memberikan layanan sesuai dengan latar belakang setiap murid, serta
- Menyusun program dan kebijakan pendidikan inklusif di sekolah.
Jenis-jenis kesulitan fungsional yang tercakup dalam aplikasi PBS antara lain :
- Kesulitan fungsional dalam melihat
- Kesulitan fungsional mendengar
- Kesulitan fungsional bergerak secara kasar
- Kesulitan fungsional menggerakkan jari atau koordinasi halus
- Kesulitan fungsional berbicara
- Kesulitan fungsional dalam kemampuan intelektual
- Kesulitan fungsional membaca
- Kesulitan fungsional perilaku, sosialisasi, atau perhatian
- Kesulitan fungsional dalam mengelola emosi
Aplikasi PBS akan secara otomatis menganalisis data yang telah diisi dan mendeteksi kondisi murid, kemudian memberikan rekomendasi yang sesuai hasil analisis tersebut. memuat beberapa informasi penting, yaitu :
- penjelasan mengenai jenis kesulitan fungsional yang dimiliki murid;
- kebutuhan alat bantu, di mana sistem akan mencocokkan jenis alat bantu yang sesuai dengan hambatan fungsional murid;
- kebutuhan pendampingan, yang berisi rekomendasi apakah murid memerlukan pendamping seperti guru, asisten guru, orang tua, atau relawan kelas;
- kebutuhan penyesuaian, berupa saran layanan pembelajaran yang relevan serta beberapa opsi lain sebagai panduan bagi guru
Asesmen Awal bertujuan untuk :
- Mengumpulkan informasi yang lengkap dan jelas tentang kondisi belajar murid saat ini.
- Memahami murid secara menyeluruh, seperti kelebihan, minat, kebutuhan, serta jenis dukungan yang bisa membantunya belajar lebih baik.
Wawancara membantu mendengar langsung cerita dan pengalaman dari sudut pandang murid maupun keluarganya, yang diwujudkan dalam bentuk percakapan yang terbuka dan saling menghargai, bukan seperti sesi tanya jawab satu arah seperti interogasi, sehingga bisa memahami latar belakang murid secara lebih menyeluruh, termasuk minat dan kebiasaan di rumah, serta hal-hal yang mungkin tidak terlihat di sekolah.
Topik 2 : Strategi Pengajaran
Strategi pengajaran (evidence-informed), merupakan strategi yang digunakan setelah mengumpulkan berbagai bukti (evidence) dari riset akademis, kajian praktik mengajar, dan data yang tersedia di sekolah untuk mengembangkan praktik pengajaran yang efektif. ada 10 (sepuluh) strategi pengajaran yang termasuk dalam evidence-informed, yaitu : pengajaran langsung, prompt, penyesuaian lingkungan fisik, pembelajaran kooperatif, tutor sebaya, pengajaran bersama, scaffolding, metakognisi dan regulasi diri, pendekatan yang dipersonalisasi, teknologi asitif.
Pengajaran langsung, merupakan pendekatan guru yang memberikan instruksi tegas, terstruktur, dan sistematis, dimana komponen utamanya meliputi tujuan instruksional yang jelas, pengajaran bertahap, praktik terbimbing, umpan balik langsung, serta asesmen rutin. Manfaat pengajaran langsung, antara lain :
- Meningkatkan pencapaian akademik murid.
- Membangun kepercayaan diri murid.
- Menjaga minat dan motivasi belajar.
- Meningkatkan efektivitas pembelajaran.
- Pengajaran langsung yang terstruktur menghadirkan lingkungan belajar yang konsisten dan mudah diikuti oleh murid penyandang disabilitas atau murid yang cenderung beraktivitas optimal dalam jadwal rutin
Ciri-ciri penerapan pengajaran langsung di kelas, meliputi :
- Tujuan pembelajaran berisi pengetahuan dan keterampilan khusus yang dapat dipelajari dan dapat dipahami dengan jelas oleh guru dan murid.
- Guru membangun keterlibatan dan komitmen murid agar dapat fokus memperhatikan tugas-tugas dalam pembelajaran.
- Guru menyediakan masukan, menunjukkan kegunaan melalui contoh, serta memeriksa pemahaman murid.
- Umpan balik individu dan remidi dilakukan secara teratur
- Poin-poin kunci ditinjau dan diperiksa kembali di setiap periode pembelajaran
- Murid-murid mempraktikkan pembelajaran baru pada beragam situasi untuk memfasilitasi generalisasi
Dalam menerapkan pembelajaran langsung dengan mengembangkan strategi yang adaptif dan akomodatif, dengan cara :
- Guru dapat menyisipkan unsur keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills atau HOTS) melalui pertanyaan analitis atau penugasan berbasis pemecahan masalah.
- Agar murid lebih aktif, kegiatan pembelajaran dapat diperkaya dengan diskusi kelompok kecil, simulasi, atau permainan edukatif yang relevan.
- Untuk mendorong pemahaman konseptual, guru perlu menggunakan contoh yang kontekstual, analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari murid, serta ruang refleksi agar murid dapat mengaitkan materi dengan pengalaman pribadi mereka.
Pembelajaran prompt merupakan prinsip pengajaran eksplisit dilakukan dalam bentuk pertanyaan terarah dengan pemberian contoh untuk membantu murid memahami dan menerapkan informasi. Dengan demikian prompt merupakan alat bantu pengajaran berupa petunjuk yang digunakan untuk mendorong, memfasilitasi, atau memandu murid supaya bisa memberikan tanggapan atau perilaku yang tepat selama proses pembelajaran, yang digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran dan keterampilan tertentu dengan memberikan panduan yang cepat, jelas, dan terstruktur.
Beberapa jenis prompt yang dapat digunakan, agar kita bisa memilih dan menyesuaikannya sesuai kebutuhan serta kemampuan murid, antara lain :
- Prompt Visual adalah bentuk bantuan yang diberikan melalui tampilan gambar, simbol, warna, atau tulisan yang dapat dilihat untuk membantu murid memahami instruksi, mengingat langkah-langkah, atau menyelesaikan tugas.
- Prompt Verbal adalah bentuk bantuan yang diberikan melalui ucapan atau instruksi lisan untuk membimbing murid dalam merespons, menyelesaikan tugas, atau mengambil langkah berikutnya.
- Prompt Gerak Tubuh (gekstur), adalah bentuk bantuan nonverbal yang diberikan melalui gerakan tubuh atau isyarat untuk membimbing murid dalam melakukan suatu tindakan atau merespons instruksi.
- Prompt Peragaan adalah bentuk bantuan di mana guru menunjukkan secara langsung bagaimana melakukan suatu tugas atau perilaku yang diharapkan, agar murid dapat meniru atau mengikuti langkah-langkahnya
- Prompt Fisik adalah bentuk bantuan berupa sentuhan langsung atau gerakan fisik yang diberikan oleh guru untuk membimbing murid melakukan suatu tindakan. Terdapat dua jenis prompt, yaitu :
- Prompt Fisik Penuh (Full Physical Prompt): Guru memberikan bantuan secara langsung dan menyeluruh untuk menyelesaikan suatu tugas. Dalam hal ini, guru mengarahkan atau menggerakkan tubuh murid secara utuh.
- Prompt Fisik Sebagian (Partial Physical Prompt): Bantuan yang diberikan hanya sebagian atau lebih ringan, tidak menggerakkan seluruh tubuh murid. Biasanya berupa sentuhan ringan atau isyarat fisik untuk memulai gerakan.
Strategi, prinsip dan langkah-langkah menerapkan prompt, antara lain :
- Kenali kebutuhan dan kemampuan murid
- Pilih jenis prompt yang paling ringan dulu
- Berikan prompt secara konsisten dan tepat waktu
- Berikan kesempatan bagi murid untuk merespons
- Lakukan pengurangan bantuan secara bertahap (fading)
- Pantau dan evaluasi efektivitas

0 comments:
Posting Komentar